Updates

Kebutuhan Air dan Amblesnya Tanah Jakarta


Artikel oleh Nila Ardhianie, Direktur Amrta Institute, dimuat di Harian Kompas, 24 Oktober 2016

 

Dengan jumlah penduduk  lebih dari 10 juta jiwa dan pelaju 3 juta orang, kebutuhan air yang diperlukan ibu kota  sungguh sangat besar. Tahun 2015  saja setidaknya diperlukan 950 juta meter kubik air untuk mencukupi kebutuhan harian penduduk, industri dan komersial. 

Layanan air permukaan melalui sistem perpipaan oleh PAM Jaya dan operatornya baru mampu memasok  331 juta meter kubik atau sekitar 35 persen, sisanya sebanyak 65 persen dapat dipastikan diambil dari air tanah karena sungai dan sumber air lainnya di Jakarta tidak dapat dimanfaatkan langsung untuk mensuplai kebutuhan air bersih warga.

Meningkatnya jumlah penduduk, aktivitas ekonomi dan industri membuat kebutuhan air meningkat dan belum mampunya PDAM melayani seluruh penduduk dan industri membuat pemanfaatan air tanah menjadi luar biasa besar. Pengambilan air tanah yang berlebihan dan tidak seimbang dengan imbuhannya membuat muka air tanah menurun dan berdampak pada penurunan tanah atau amblesan tanah. Di Jakarta fenomena amblesan tanah mulai dicatat terjadi sejak awal 1990an. Berdasarkan berbagai studi yang dilakukan, penurunan tanah Jakarta terjadi bervariasi secara spasial dan waktu  antara 3-10 cm per tahun. 

Meskipun menjadi gantungan dari sebagian besar warga Jakarta, sayangnya perhatian terhadap air tanah masih sangat kurang. Jarang sekali air tanah menjadi isu sentral yang dibicarakan dalam kebijakan-kebijakan publik baik tingkat nasional terkait dengan posisi Jakarta sebagai ibukota maupun lokal. Hal ini karena air tanah secara fisik tidak terlihat sehingga kerap lolos dari perhatian, kurang dihargai dan kurang diatur dalam peraturan perundangan. 

Dampak penurunan tanah sebetulnya sudah dapat dilihat dari meningkatnya risiko banjir seperti meluasnya luasan banjir, meningkatnya frekuensi dan luasan rob serta  banyaknya bangunan yang retak dan rusak termasuk infrakstruktur publik seperti jalan dan jembatan.  Juga amblesnya rumah dan bangunan milik warga, retak atau rusaknya pipa air di tanah, tidak berfungsinya drainase secara optimal, perubahan aliran sungai, intrusi air laut, makin tingginya biaya perawatan bangunan dan infrastruktur, merosotnya nilai bangunan sampai menurunnya kualitas hidup warga dan tergangunya aktivitas serta produktivitas penduduk Jakarta.

Di Shanghai total kerugian akibat penurunan tanah dalam 40 tahun terakhir adalah 35 milyar Dolar AS. Di Belanda pada 2006 kerugian mencapai 3,5 milyar Euro, sementara di China per tahun rata-rata kerugian adalah 1,5 milyar Dolar AS. 

Penyebab penurunan tanah yang terjadi di Jakarta adalah pemanfaatan air tanah berlebihan, pembebanan bangunan, kompaksi tanah dan fenomena tektonik. Sampai saat ini belum ada penelitian solid dan komprehensif yang menghubungkan penurunan tanah di setiap lokasi di Jakarta dengan penyebabnya, akan tetapi ada cukup banyak artikel ilmiah yang menghubungkan penurunan tanah Jakarta dengan over eksploitasi air tanah. Hal ini  sama seperti yang terjadi di Tokyo, Bangkok, Shanghai, Dhaka, HoChi Minh, Taipe, Rafsanjan, California dan lain-lain. 

Di Tokyo hubungan pengambilan air tanah berlebihan dengan amblesan air tanah sangat nyata terlihat. Setelah penurunan tanah terus terjadi pada awal 1960 pemerintah  membatasi secara ketat pemakaian air tanah, pada akhir 1960-an muka air tanah mulai naik dan awal 1970-an penurunan air tanah mulai berhenti. Pada awal 1970-an Jepang juga banyak membuat proyek substitusi pengganti air tanah yang ditujukan bagi industri, domestik, pertanian. Di Bangkok pemakaian air tanah diperketat sejak 1985 dan terus berlangsung sampai sekarang, dampak positifnya belakangan Bangkok berhasil mengurangi pemakaian air tanah sampai hanya tinggal 10%.

Pengelolaan dan Data Air Tanah

Belajar dari kota-kota lain yang berhasil mengelola air tanahnya maka Jakarta perlu segera membatasi  secara ketat pemakaian air tanah, mengembangkan layanan air perpipaan atau pengembangan perusahaan daerah air minum, mengelola data air tanah dan recharge untuk wilayah-wilayah yang sudah kritis. 

Sebagai dasar pengelolaan dibutuhkan data yang komprehensif meliputi jumlah sumur, dimana lokasinya,  kedalaman, volume pemakaian dan kapan dibuat. Begitu juga dengan kondisi air tanah dari waktu ke waktu, berapa banyak air diambil dari sistem serta kualitasnya. Membangun data base air tanah sangat penting apalagi penelitian Delinom et.al (2015)  menunjukkan bahwa dasar cekungan air tanah Jakarta ternyata bukan merupakan garis yang melandai dari selatan ke utara tetapi menunjukan adanya struktur tinggian dan rendahan serta lebih tipis yang berimplikasi pada jumlah cadangan air tanah Jakarta jumlahnya mungkin lebih sedikit dari yang selama ini diperkirakan. 

Memang untuk mengetahui berapa banyak air tanah dipakai setiap bulan atau setiap tahun bukan pekerjaan mudah. Untuk mengetahui lokasi sumur air tanah cukup sulit, apalagi jika berada di kompleks bangunan besar.  Dari luar tidak bisa dilihat dan mudah sekali bagi pemilik gedung untuk menyembunyikan sumurnya. Akan tetapi sesulit apapun data adalah pondasi penting pengelolaan, seperti sering disampaikan guru manajemen Peter Drucker, what get measured, get managed. Bahkan Napolean Bonaparte yang tidak hidup di abad informasi pun mengatakan war is ninety percent information. 

 

Nila Ardhianie, pemerhati sumber daya air