Latest News

Akses Perpipaan Jadi Tujuan Jangka Panjang


AIR TANAH

JAKARTA, KOMPAS — Pemetaan air tanah berkualitas baik di wilayah utara Cekungan Air Tanah atau CAT Jakarta dapat membantu warga miskin yang kesulitan mengakses air bersih di sana. Namun, perluasan layanan air perpipaan bersumber dari air permukaan tetap perlu jadi tujuan jangka panjangnya.

"Sumber utama untuk rumah tangga dan kegiatan komersial idealnya dari air perpipaan, mengingat airnya sudah diolah dan dialirkan melalui saluran perpipaan tertutup," tutur Direktur Amrta Institute Nila Ardhianie, saat dihubungi Senin (31/7). Apalagi, jika air perpipaan bersumber dari air permukaan seperti sungai, danau, atau bendungan, pemanfaatan air tanah berkurang sehingga risiko penurunan muka tanah mengecil.

Namun, kondisi air perpipaan di Jakarta kini masih memprihatinkan. Berdasarkan Jakarta dalam Angka 2010-2016 dari Badan Pusat Statistik yang diolah Amrta Institute, lebih dari 60 persen kebutuhan air di Jakarta setiap tahun senantiasa dipenuhi dengan pengambilan air tanah.

Pada tahun 2000, penduduk dan pelaju di Jakarta 10,48 juta jiwa dengan kebutuhan air total 995 juta meter kubik. Sebanyak 648 juta meter kubik atau 65 persennya berasal dari air tanah. Setelah 15 tahun kemudian, penduduk dan pelaju mencapai 12,72 juta jiwa dan total kebutuhan air 1,2 miliar meter kubik. Air tanah digunakan untuk memenuhi 63 persen kebutuhan atau 761 juta meter kubik.

Karena itu, Nila menyetujui usulan Balai Konservasi Air Tanah (BKAT). BKAT menyarankan agar titik-titik air tanah dengan kualitas bagus di wilayah utara CAT dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tingkat rumah tangga warga berpenghasilan menengah ke bawah.

Terkait dengan hal itu, BKAT saat ini terus memetakan titik air tanah berkualitas baik di utara CAT Jakarta. Tim sementara ini mendapatkan titik air tanah berkualitas baik dari akuifer bebas di Pademangan, Kecamatan Koja, Kebon Jeruk, Joglo, Medan Satria, Babelan, Neglasari, dan Pinang.

Kepala BKAT Mochamad Wachyudi Memed menuturkan, setelah titik air tanah berkualitas baik selesai dipetakan lengkap, pihaknya mengusulkan pemerintah dan pemerintah daerah membuat fasilitas pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih bagi warga di sekitar titik-titik itu. Fasilitas tersebut bisa berupa tempat mandi cuci kakus umum dan pengolahan air minum.

Meski demikian, Nila meminta strategi semacam itu tidak dijadikan langkah jangka panjang demi menekan risiko penurunan muka tanah. "Sebaiknya layanan air perpipaan diprioritaskan ke wilayah utara karena air tanahnya pun sudah sulit," ujarnya.

Wachyudi satu kata dengan Nila. Air tanah nantinya hanya sebagai cadangan. Ia berharap pemerintah memastikan warga miskin bisa mengakses air perpipaan dengan tarif terjangkau. Sebab, investasi penyambungan pipa selama ini sangat mahal.

 

(JOG)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Agustus 2017, di halaman 27 dengan judul "Akses Perpipaan Jadi Tujuan Jangka Panjang".